uswatun khasanah menjadi seindah namaku
OLEH : RISA LESTARI
Uswatun Khasanah, begitulah pasangan Siti Rohmah dan Abdul Manan memberiku nama ketika aku menjadi anak kedua mereka bertepatan dengan hari pramuka 19 tahun yang lalu. Sama seperti daun yang jatuh, semua bukan hanya kebetulan. Nama yang terdengar sederhana itu merupakan doa dan harapan agar aku bisa menjadi teladan yang baik. Tak mudah bagiku menyandang nama yang diambil dari manusia terbaik ini, dan bagiku hidup ini adalah perjalanan untuk menjadi seindah namaku. Bukan kebetulan juga pramuka yang harinya bertepatan dengan hari kelahiranku, mengalir pula dalam darahku.
Aku sudah terbiasa bersahabat dengan alam, telah banyak gunung yang ku daki. Saat ini aku berdiri di puncak Rinjani yang setiap jengkal keindahannya memanjakan mataku. Berada di sini seolah langit akan ku gapai, melihat betapa luasnya bumi ini terbentang dengan jajaran gunung yang hendak menggapai langit, semakin mata ini memandang semakin kecil diri ini. Sungguh segala puji untuk Pencipta seluruh alam, tiada pantas diri ini berbesar diri.
Tak berbeda dengan hidup, memanjakan mata ini dengan segala pesona Rinjani tak bisa serta merta. Kepongahannya menantang untuk ditakhlukkan, menapakinya harus berbekal tekad dan kesabaran yang besar. Saat mencapai puncak keindahannya, segala beban dan kelelahan menguap dan berlari bersama sang bayu. Demikian pula dengan hidup, ada harga yang harus di bayar untuk setiap pencapaian.
Dalam kepalaku berjejalan ingatan perjalanan hidupku yang tak ku sangka dapat ku lewati. Melewati lorong waktu, melesat menuju kabupaten Malang, di sebuah desa, di tanah yang pertama kali ku tapaki, di sinilah kehidupanku bermula. Terlahir di keluarga yang amat sederhana bukanlah pilihanku, tapi sungguh aku sangat mensyukurinya. Banyak hal yang tak bisa ku miliki dibanding teman-temanku, namun kebahagiaan tidak hanya bersama hal-hal itu. Aku tetap memiliki banyak kebahagiaan yang jika ku bagikan pada orang lain justru semakin berlipat.
Saat aku belajar di MI (sekolah islam setingkat SD), aku tak pernah mendapat uang saku dari orang tuaku. Penghasilan mereka yang tak seberapa cukup untuk menghidupi aku, kakakku, dan adik-adikku. Aku tak ingin menambah beban dengan meminta uang saku, rumahku yang hanya berjarak satu rumah dari sekolah memungkinkan aku untuk makan di rumah dari pada jajan saat istirahat sekolah. Sudah ku katakan aku ingin menjadi seindah namaku, aku ingin memberi contoh pada tiga adikku tentang kemandirian. Kakakku mengalami keterbatasan penglihatan, sering kali akulah yang menggantikan perannya sebagai anak sulung. Dengan segala keterbatasan yang ku miliki, aku tak pernah menjadikannya penghalang untuk berprestasi. Aku tak pernah bosan menjadi terbaik di kelas, kujadikan sebagai hadiah untuk orang tua terbaikku.
Keluargaku selalu menanamkan nilai-nilai agama, seusai lulus MI orang tuaku mendaftarkanku di sekolah agama lagi, MTs (sekolah islam setingkat SMP). Sekolah itu juga yang paling dekat dengan rumah kami, aku pergi ke sekolah di desa sebelah itu berjalan kaki. Hal yang tetap sama adalah aku tak pernah membawa uang saku ke sekolah. Awalnya hal itu tak masalah karena aku membawa bekal ke sekolah, namun karena kebutuhan sekolah bertambah aku mulai memikirkan cara menghasilkan uang sendiri.
Tak tahu dari mana datangnya ide itu, seusai shalat shubuh aku pergi ke sekolah. Sebenarnya aku tak memiliki nyali karena jalan menuju sekolah harus melewati makam, namun tekadku mengalahkan ketakutanku. Sesampainya di sekolah aku mengambil sampah-sampah yang masih bisa dijual. Kemudian aku pulang dan bergegas kembali lagi ke sekolah karena sekolahku mengharuskan muridnya shalat dhuha berjamaah terlebih dahulu di masjid jam enam pagi sebelum kegiatan belajar. Begitulah rutinitasku setiap pagi selama tiga tahun, untuk mendapat uang tambahan sesekali saat liburan aku membantu orang memanen cabai di sawah. Aku menutup masa itu dengan menjadi siswa teladan dan lulusan terbaik.
Teman-temanku sibuk membicarakan SMA mana yang akan mereka tuju, sedang aku hanya memikirkan apakah aku bisa melanjutkan. Pertanyaanku terjawab saat bapakku mengatakan ‘tidak’. Ingin rasanya merengek, namun aku tahu beban yang mereka emban. Mereka hanya ingin aku membantu meringankan beban itu, aku tak bisa menolaknya. Aku berdoa tanpa putus asa, doaku terjawab saat aku berkunjung ke salah satu guruku saat Idul Fitri. Beliaulah yang membujuk orang tuaku dan membantu proses pendaftaran di MA (sekolah islam setingkat SMA) yang masih satu lembaga dengan MTs ku.
Sekali lagi aku berbeda dengan teman-temanku, aku diizinkan bapakku sekolah karena aku berjanji akan membiayai sendiri kebutuhanku. Saat kepala sekolah menawariku menjadi Cleaning Service di kantor sekolah akupun tak menyia-nyiakannya. Saat itu gajiku Rp. 80.000, Rp. 50.000 ku gunakan untuk membayar SPP dan sisanya ku tabung. Rutinitas harianku aku datang lebih pagi dan pulang paling akhir karena harus membersihkan kantor.
Saat naik ke kelas dua, aku terpilih menjadi ketua OSIS. Hari-hariku di penuhi kesibukan, aku baru tiba di rumah jam tiga, setengah jam kemudian aku mengajar anak-anak kecil membaca Al-Quran disambung jam lima aku mengajar les. Seusai shalat maghrib aku mengaji Al-Quran dan setelah isya aku mengaji kitab di pesantren dekat rumah. Aku bergerak bagai robot tanpa lelah.
Kepemimpinanku di OSIS saat itu dipandang lebih baik dari sebelumnya, namun bukan berarti tanpa masalah. Saat lomba antar kelas yang sudah dipersiapkan dengan baik telah tiba, hanya sedikit peserta yang berpartisipasi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena saat itu aku sendiri terpilih menjadi pemimpin regu untuk mengikuti Jambore nusantara di Batam dan harus sering latihan, aku juga terpilih menjadi dirigen paduan suara untuk acara wisuda. Semua orang sangat sibuk saat itu. Bersama anggota OSIS, kami menangis. Tapi kami bangkit, kami memutuskan untuk mengajak siswa-siswi MI untuk berpartisipasi dan semua berjalan dengan baik.
Sampai kelas tiga aku masih memiliki banyak kegiatan, aku mengikuti berbagai lomba. Salah satunya lomba majalah dinding 3D tingkat kabupaten Malang. Saat ku utarakan keinginanku pada guru, guru tersebut tidak mengizinkan. Tidak putus asa, akhirnya aku dan temanku memutuskan pergi ke kantor kecamatan Karangploso. Setelah memenuhi syarat tim beranggotakan siswa MA dan MTs, akhirnya kecamatan memberi dana sebesar RP. 400.000. setelah proses pengerjaan selama tiga hari dua malam, kami akhirnya berangkat mengikuti lomba. Benar saja upaya tak pernah menghianati hasil, kami membawa pulang juara dua. Pujianpun membanjiri kami, termasuk dari guru yang tak memberi izin. Bukan itu yang ingin ku tunjukkan, melainkan di saat satu pintu tertutup pintu lain pasti akan terbuka.
Saat itu hari-hariku sangat menyenangkan bersama teman-teman, namun kebersamaan kami akan segera berakhir ditandai dengan datangnya ujian sekolah yang bertubi-tubi. Ujian hiduppun tak luput menyapaku, telingaku mengeluarkan cairan putih dengan bau yang tidak sedap. Aku memakai jilbab hingga tiga lapis, namun cairan itu tetap saja tak mau bersembunyi. Dengan segala kesibukanku, ibulah yang mencuci kerudungku, ku lihat ibu mencuci sembari menitikkan air mata. Setiap malam aku selalu tidur bersama ibu karena kamar di rumah kami hanya ada dua. Sejak aku sakit kamarku juga berbau tidak sedap karena cairan itu menempel di bantal, namun ibu tetap saja mau tidur satu kamar denganku. Biasanya ku dengar tangisannya sebelum aku terlelap. Tak mau menanggung malu pada teman-teman, terutama teman sebangku ku yang harus mencium bau ini, aku memutuskan untuk tidak hadir di sekolah.
Aku mencoba berobat ke Puskesmas, aku sembuh selama satu minggu kemudian kambuh lagi. Saat itu teman-teman kerja ibu di peternakan memberi ibu uang untuk membawaku berobat. Akhirnya kami membeli obat di apotik, aku sembuh sesuai umur obat itu. Penyakit itu datang lagi dan kami harus membeli obat yang tak murah itu lagi. Seakan belum cukup, saat itu bapakku yang berprofesi sebagai petani, kakinya terkena cangkul. Sementara uang hasil menjual hasil panen buncis hanya sedikit karena harga buncis yang murah. Bapak mengalah, uang hasil panen itu berubah menjadi obat untukku. Hatiku pilu melihatnya susah berjalan sementara aku akhirnya terlepas dari penderitaan ini.
Setelah aku sembuh, aku menjalani lagi kehidupanku seperti biasa. Sama seperti sebelumnya, setelah melewati proses panjang dan tak mudah aku berhasil mengakhiri masa MA dengan menjadi yang terbaik dan berbagai prestasi. Ku hadiahkan sepenuhnya untuk keluargaku yang tulus mencintaiku.
Seorang guru yang selalu mengingatkanku untuk menadahkan tangan saat sepertiga malam, memberiku informasi tentang beasiswa bidikmisi. Namun sayang deadline pendaftarannya sudah lewat. Saat itu aku jarang sekali mengakses informasi di internet.
Ku pikir ini adalah kesempatanku mewujudkan impian masa kecilku untuk menjadi penegak hukum, aku mendaftarkan diri di Kapolres Kepanjen. Seleksi pertama adalah pengumpulan berkas dan cek fisik. Jarak rumah dan Kepanjen cukup jauh, sedang motor Sanex ku sering kali bermasalah. Mengurus segala berkas itu membuatku sering bolak-balik rumah-Kepanjen.
Pada hari itu berkasku telah lengkap, saat aku akan berangkat motorku bermasalah. Aku memutuskan untuk menggunakan angkutan umum, untuk menuju kepanjen aku harus naik tiga angkutan umum. Semangatku menggebu, aku menunggu kesempatan ini seumur hidupku. Setibanya di Polres, aku segera menyerahkan berkasku dan mengikuti cek fisik. Alangkah terkejutnya aku, aku tidak lolos karena tinggiku kurang satu centimeter saja. Impianku layu tanpa sempat berkembang.
Langkahku gontai saat keluar dari Polres, dalam hati aku mengutuk andai satu senti itu. Susah payah aku membujuk diriku untuk berdamai dengan hati untuk menerima kenyataan. Baru tersadar aku bahwa aku datang ke sini dengan angkutan umum, segera kuraih dompetku hanya ada kertas bergambar Pattimura bertengger di sana. Aku limbung, ku lihat ponselku pun tak bernyawa. Ku putuskan untuk berjalan kaki, mesti tak mungkin aku berjalan kaki ke rumah. Ingin ikut bersama kendaraan yang melintas, namun takut akan resiko. Aku lebih memilih berjalan menerobos hujan.
Saat itu aku sedang puasa rajab, mendengar adzan maghrib aku memutuskan untuk singgah di masjid terdekat. Aku menuju kamar mandi, ku teguk dua gayung air untuk membatalkan puasaku dan menghilangkan semua dahaga. Seusai shalat ku adukan semua masalahku pada Sang Maha Pendengar, ku biarkan air yang membanjiri pipiku.
Seusai shalat ku putuskan untuk berjalan lagi, sebenarnya nyaliku juga ciut berjalan sendiri di malam hari, mungkin bila sudah terlalu larut aku akan bermalam di masjid. Tak berselang lama setelah aku berjalan lagi, seorang pemuda bersepeda berhenti di depanku, ku taksir usianya tak terpaut jauh denganku.
“Mbak yang jalan dari tadi siang, mau kemana?” sapanya padaku
“Saya mau pulang ke Karangploso, tadi lupa gak bawa uang” aku menangis dan menceritakan semua, tak peduli aku tak mengenalnya.
“Ini mbak” ia menyodorkan lembaran Rp. 20.000
“Tidak usah, mas” tolakku
“Sudah mbak terima saja, ini sudah malam”
Akhirnya aku menerima uang itu dan pria tadi membantuku mencari angkutan umum, “Terimakasih, ya mas” hanya itu yang bisa ku ucapkan. Akhirnya aku bisa pulang dengan angkutan terakhir yang melintas, bahkan sopir angkutan tersebut mengatakan jika aku telat beberapa menit saja sudah tidak ada lagi angkutan yang melintas. Pukul sembilan malam, aku tiba di rumah dengan perasaan yang bercampur.
Tak putus asa, aku mengubah rencanaku. Ku pikir saat ini yang paling penting aku bisa kuliah. Aku mengikuti seleksi BPUN (Bimbingan Pasca Ujian Nasional) dan aku terpilih menjadi satu dari 60 peserta yang mendapat bimbingan khusus di Kepanjen. Banyak hal yang ku dapatkan di sini, ilmu, teman, dan pengalaman. Aku masuk kelas Saintek.
Dua minggu kemudian seorang teman memberiku informasi mengenai beasiswa Beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) dari Kementrian Perindustrian tiga hari sebelum pengumpulan. Sedikit ragu aku mengikuti beasiswa tersebut. Beruntungnya seleksi beasiswa tersebut hanya melalui berkas, hampir semua berkas ku kantongi ketika mendaftar di kepolisian, hanya empat berkas yang harus ku lengkapi. Setelah mendapatkan surat keterangan tidak mampu dan surat rekomendasi dari sekolah, aku meminta surat keterangan bebas narkoba. Ternyata tes tersebut membutuhkan biaya Rp. 40.000. Sedang aku hanya memiliki uang seperempatnya.
“Mohon maaf ya pak sebelumnya, tapi saya hanya punya uang sepuluh ribu” kataku pada petugas.
“Memangnya surat ini untuk apa?” tanya petugas tersebut
“Untuk melamar beasiswa, pak. Saya benar-benar membutuhkannya”
“Ya sudah gak papa ini bawa aja.”
“Terimakasih, pak”
Aku bergegas menuju dinas perindustrian untuk meminta surat pendelegasian. Seorang petugas penyambutku, “Kenapa baru minta sekarang? Batas akhir pengumpulan besok. Kamu bisa?”
“Saya baru tahu infonya kemarin, bu” elakku
“Pokoknya tidak bisa, atasan saya sedang rapat.”
Tak peduli dengan pernyataan petugas tersebut, aku menunggu hingga setengah jam lebih. Mungkin petugas itu iba, akhirnya dia menanyakan namaku dan akhirnya memberiku surat yang ku tunggu.
“Ini surat kamu, kamu ke kantor pos yang di dekat alun-alun itu buka sampai malam, biar besok bisa dikirim” saran petugas tersebut, saat itu hari jumat dan kantor pos biasanya tutup jam tiga sore.
“Iya, terimakasih, bu”.
Aku bergegas untuk shalat di masjid, aku menuju toilet dan meninggalkan tasku di depan. Aku terkejut saat keluar dari toilet hapiku sudah raib. Tak tahu harus bagaimana, aku memutuskan kembali ke tempat bimbingan. Seorang teman menanyaiku kenapa tidak mengikuti kelas, ku ceritakan padanya semua yang telah ku alami. Mungkin dia tersentuh, akhirnya dia bersedia mengantarku ke kantor pos dengan motornya.
Waktu cepat berlalu sangat cepat, satu bulan bimbingan ini pun usai. Pada malam terakhir pendaftaran SBMPTN ketua kelas kami menanyaiku apakah mau mendaftar. Aku menolak dengan halus, meski sebenarnya aku sangat ingin mengikutinya. Tapi aku tak bisa membayar uang pendaftarannya.
“Kamu ingin ikut SBMPTN kan? Ini ada sedikit dari teman-teman” ketua kelas kami menyodorkan uang. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan berterimakasih. Orang-orang ini belum lama ku kenal, tapi bisa sangat peduli padaku.
Selepas ujian SBMPTN, aku masih belum tenang. Ada informasi mengenai tes masuk STAN, aku ingin mengikutinya, namun lagi-lagi aku tak mampu membayar biaya pendaftarannya. Tak pernah ku ragukan keinginan kuat selalu diiringi jalan. Aku memecahkan tabunganku, ku temukan uang 60 ribu. 50 ribu datang bersama ibu seorang temanku. Aku pun mendaftar dengan uang tersebut. Sebelum ujian dilaksanakan, aku datang ke ITN untuk melihat lokasi ujian. Aku yang jarang ke Kota Malang sama sekali tak tahu dimana Jalan Sigura-gura. Aku bolak-balik melintasi Jalan Sumbersari hingga Jalan Bendungan Sutami. Di sebuah perempatan aku berhenti, aku melihat pengemis yang tak memiliki kaki. Aku iba, kulihat kantongku hanya berisi satu lembaran lima ribu. Ku berikan itu padanya, saat aku mendongak kulihat papan bertulis jalan yang ku cari tertutup ranting pohon. Aku segera berbelok dan ku temukan tempat yang ku cari.
Esoknya pada hari ujian aku lewat jalan pintas karena motorku bermasalah, aku melewati sebuah masjid yang sedang direnovasi. Ku rogoh kantongku, ku temukan lembaran dua ribu dan segera ku masukkan pada kotak yang tersedia. Saat tiba di ITN, aku bingung karena ada biaya parkir sebesar dua ribu. Ku biarkan saja yang terpenting aku ujian dulu. Membaca soal ujian semakin menambah pusing kepalaku, seakan aku melihat tulisan dengan bahasa yang tak pernah ku kenal. Waktu habis, aku mengumpulkan lembar jawabanku meski tak yakin. Tak tahu aku apa yang harus ku perbuat mengingat aku tak punya uang sama sekali untuk membayar parkir, aku hanya duduk di dekat parkiran. Seorang ibu yang menunggu anaknya menghampiriku dan mengajakku berbincang.
“Mbak gak pulang?” tanya ibu itu sebelum pergi
“Saya bingung bu, tadi lupa tidak bawa uang. Ternyata parkirnya bayar” jawabku jujur.
“Kok gak ngomong dari tadi?” ibu itu membuka dompet “ini” ibu itu menyodorkan lembaran dua ribu.
“Terimakasih, bu” lagi-lagi hanya itu yang bisa ku ucapkan.
Aku membayar parkir dengan uang dari ibu itu, kemudian pulang. Di tengah perjalanan, motorku berhenti bensinku habis. Ku dorong hingga menemukan penjual bensin eceran. Demi mendapat satu liter bensin, ku tinggalkan tasku yang berisi buku-buku dengan janji esok kembali dengan membawa uang.
Hari pengumuman yang menentukan nasibku selanjutnya tiba. Sebelumnya jika mengikuti lomba apapun aku tak pernah meminta izin pada ibu, jika menang aku baru ku katakan pada ibu. Kali ini berbeda, aku takut, berdebar, semuanya bercampur. Sebelum melihat pengumuman, aku meminta doa restu ibu. Ku cuci kakinya, air itu kemudian ku gunakan untuk mencuci muka. Nyatanya kenyataan jauh dari harapan. Aku ditolak bertubi-tubi, SBMPTN dan STAN. Harapan terakhirku adalah TPL, ku lihat jajaran nama dari atas hingga bawah namaku tak ku dapati, yang ku temukan justru temanku yang di terima di Makassar. Aku pulang dengan lemas.
“Bu, bagaimana? Aku tidak bisa kuliah, apa aku harus bekerja di sawah” keluhku pada ibu.
“Sabar, mungkin belum saatnya. Jalani saja dulu, nanti kalau ijazah sudah keluar kamu bisa melamar kerja.” Saran ibu.
Malam itu adalah malam 27 Ramadan, setiap sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan di masjid kampungku selalu penuh orang shalat Lailatul Qadar. Aku menjadi salah satu dari banyaknya orang yang memenuhi masjid. Aku shalat bersebelahan dengan ibu. Aku merasa malam itu malam terbaik dalam hidupku, ku adukan pada-Nya semua yang telah ku alami. Semua orang seolah pergi, hanya ada aku dan Dia. Ku biarkan semua masalah, kesedihan dan sakitku mengalir bersama air mataku. Perlahan kesejukan memenuhi dadaku, aku berdamai dengan diriku sendiri untuk menerima kenyataan. Ku lihat ibu sedang menghapus air matanya.
“Us, kamu dicari guru. Katanya kamu diterima di UGM.” Kata seorang temanku keesokan harinya.
“Gak salah? Aku gak daftar di UGM.” Jawabku
“Coba tanya langsung aja.” Katanya.
Aku bergegas menuju rumah guru yang di maksud, ternyata guru itu sedang tidak di rumah.aku menuju rumah guru lain yang rumahnya lebih dekat dengan rumahku. “Oh yang beasiswa itu ya?” sambut guru tersebut, kemudian pergi tak lama kemudian kembali dengan membaya amplop. “ini”.
Sekali lagi hanya bisa mengucap terimakasih. Aku menerima amplop itu dengan hati berdebar, ku buka perlahan, ku baca dengan teliti seolah tak ingin satu hurufpun terlewat. Tubuh ini terasa lemas membaca berulang-ulang memastikan namaku yang tertulis di kertas tersebut. Kertas ajaib itu menyulapku menjadi mahasiswi di Politeknik AKA Bogor.
Waktu melesat membawaku ke Rinjani. Hidup ini sepongah Rinjani, manusia bisa memilih takhluk atau menakhlukkannya. Aku memilih yang kedua, menapaki perlahan, menikmati dan mensyukurinya. Manusia begitu bodoh, aku perlahan baru mengerti alasan satu senti yang memupuskan mimpiku. Dia selalu memberikan yang terbaik, dan aku tak pernah meragukan hal tersebut. Aku menceritakan semua ini bukan karena diri ini besar, sungguh tak ada yang bisa ku banggakan, aku hanya berharap kamu memetik barang satu atau dua makna dari kisah hidupku agar aku bisa menjadi seindah namaku.
Uswatun Khasanah, begitulah pasangan Siti Rohmah dan Abdul Manan memberiku nama ketika aku menjadi anak kedua mereka bertepatan dengan hari pramuka 19 tahun yang lalu. Sama seperti daun yang jatuh, semua bukan hanya kebetulan. Nama yang terdengar sederhana itu merupakan doa dan harapan agar aku bisa menjadi teladan yang baik. Tak mudah bagiku menyandang nama yang diambil dari manusia terbaik ini, dan bagiku hidup ini adalah perjalanan untuk menjadi seindah namaku. Bukan kebetulan juga pramuka yang harinya bertepatan dengan hari kelahiranku, mengalir pula dalam darahku.
Aku sudah terbiasa bersahabat dengan alam, telah banyak gunung yang ku daki. Saat ini aku berdiri di puncak Rinjani yang setiap jengkal keindahannya memanjakan mataku. Berada di sini seolah langit akan ku gapai, melihat betapa luasnya bumi ini terbentang dengan jajaran gunung yang hendak menggapai langit, semakin mata ini memandang semakin kecil diri ini. Sungguh segala puji untuk Pencipta seluruh alam, tiada pantas diri ini berbesar diri.
Tak berbeda dengan hidup, memanjakan mata ini dengan segala pesona Rinjani tak bisa serta merta. Kepongahannya menantang untuk ditakhlukkan, menapakinya harus berbekal tekad dan kesabaran yang besar. Saat mencapai puncak keindahannya, segala beban dan kelelahan menguap dan berlari bersama sang bayu. Demikian pula dengan hidup, ada harga yang harus di bayar untuk setiap pencapaian.
Dalam kepalaku berjejalan ingatan perjalanan hidupku yang tak ku sangka dapat ku lewati. Melewati lorong waktu, melesat menuju kabupaten Malang, di sebuah desa, di tanah yang pertama kali ku tapaki, di sinilah kehidupanku bermula. Terlahir di keluarga yang amat sederhana bukanlah pilihanku, tapi sungguh aku sangat mensyukurinya. Banyak hal yang tak bisa ku miliki dibanding teman-temanku, namun kebahagiaan tidak hanya bersama hal-hal itu. Aku tetap memiliki banyak kebahagiaan yang jika ku bagikan pada orang lain justru semakin berlipat.
Saat aku belajar di MI (sekolah islam setingkat SD), aku tak pernah mendapat uang saku dari orang tuaku. Penghasilan mereka yang tak seberapa cukup untuk menghidupi aku, kakakku, dan adik-adikku. Aku tak ingin menambah beban dengan meminta uang saku, rumahku yang hanya berjarak satu rumah dari sekolah memungkinkan aku untuk makan di rumah dari pada jajan saat istirahat sekolah. Sudah ku katakan aku ingin menjadi seindah namaku, aku ingin memberi contoh pada tiga adikku tentang kemandirian. Kakakku mengalami keterbatasan penglihatan, sering kali akulah yang menggantikan perannya sebagai anak sulung. Dengan segala keterbatasan yang ku miliki, aku tak pernah menjadikannya penghalang untuk berprestasi. Aku tak pernah bosan menjadi terbaik di kelas, kujadikan sebagai hadiah untuk orang tua terbaikku.
Keluargaku selalu menanamkan nilai-nilai agama, seusai lulus MI orang tuaku mendaftarkanku di sekolah agama lagi, MTs (sekolah islam setingkat SMP). Sekolah itu juga yang paling dekat dengan rumah kami, aku pergi ke sekolah di desa sebelah itu berjalan kaki. Hal yang tetap sama adalah aku tak pernah membawa uang saku ke sekolah. Awalnya hal itu tak masalah karena aku membawa bekal ke sekolah, namun karena kebutuhan sekolah bertambah aku mulai memikirkan cara menghasilkan uang sendiri.
Tak tahu dari mana datangnya ide itu, seusai shalat shubuh aku pergi ke sekolah. Sebenarnya aku tak memiliki nyali karena jalan menuju sekolah harus melewati makam, namun tekadku mengalahkan ketakutanku. Sesampainya di sekolah aku mengambil sampah-sampah yang masih bisa dijual. Kemudian aku pulang dan bergegas kembali lagi ke sekolah karena sekolahku mengharuskan muridnya shalat dhuha berjamaah terlebih dahulu di masjid jam enam pagi sebelum kegiatan belajar. Begitulah rutinitasku setiap pagi selama tiga tahun, untuk mendapat uang tambahan sesekali saat liburan aku membantu orang memanen cabai di sawah. Aku menutup masa itu dengan menjadi siswa teladan dan lulusan terbaik.
Teman-temanku sibuk membicarakan SMA mana yang akan mereka tuju, sedang aku hanya memikirkan apakah aku bisa melanjutkan. Pertanyaanku terjawab saat bapakku mengatakan ‘tidak’. Ingin rasanya merengek, namun aku tahu beban yang mereka emban. Mereka hanya ingin aku membantu meringankan beban itu, aku tak bisa menolaknya. Aku berdoa tanpa putus asa, doaku terjawab saat aku berkunjung ke salah satu guruku saat Idul Fitri. Beliaulah yang membujuk orang tuaku dan membantu proses pendaftaran di MA (sekolah islam setingkat SMA) yang masih satu lembaga dengan MTs ku.
Sekali lagi aku berbeda dengan teman-temanku, aku diizinkan bapakku sekolah karena aku berjanji akan membiayai sendiri kebutuhanku. Saat kepala sekolah menawariku menjadi Cleaning Service di kantor sekolah akupun tak menyia-nyiakannya. Saat itu gajiku Rp. 80.000, Rp. 50.000 ku gunakan untuk membayar SPP dan sisanya ku tabung. Rutinitas harianku aku datang lebih pagi dan pulang paling akhir karena harus membersihkan kantor.
Saat naik ke kelas dua, aku terpilih menjadi ketua OSIS. Hari-hariku di penuhi kesibukan, aku baru tiba di rumah jam tiga, setengah jam kemudian aku mengajar anak-anak kecil membaca Al-Quran disambung jam lima aku mengajar les. Seusai shalat maghrib aku mengaji Al-Quran dan setelah isya aku mengaji kitab di pesantren dekat rumah. Aku bergerak bagai robot tanpa lelah.
Kepemimpinanku di OSIS saat itu dipandang lebih baik dari sebelumnya, namun bukan berarti tanpa masalah. Saat lomba antar kelas yang sudah dipersiapkan dengan baik telah tiba, hanya sedikit peserta yang berpartisipasi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena saat itu aku sendiri terpilih menjadi pemimpin regu untuk mengikuti Jambore nusantara di Batam dan harus sering latihan, aku juga terpilih menjadi dirigen paduan suara untuk acara wisuda. Semua orang sangat sibuk saat itu. Bersama anggota OSIS, kami menangis. Tapi kami bangkit, kami memutuskan untuk mengajak siswa-siswi MI untuk berpartisipasi dan semua berjalan dengan baik.
Sampai kelas tiga aku masih memiliki banyak kegiatan, aku mengikuti berbagai lomba. Salah satunya lomba majalah dinding 3D tingkat kabupaten Malang. Saat ku utarakan keinginanku pada guru, guru tersebut tidak mengizinkan. Tidak putus asa, akhirnya aku dan temanku memutuskan pergi ke kantor kecamatan Karangploso. Setelah memenuhi syarat tim beranggotakan siswa MA dan MTs, akhirnya kecamatan memberi dana sebesar RP. 400.000. setelah proses pengerjaan selama tiga hari dua malam, kami akhirnya berangkat mengikuti lomba. Benar saja upaya tak pernah menghianati hasil, kami membawa pulang juara dua. Pujianpun membanjiri kami, termasuk dari guru yang tak memberi izin. Bukan itu yang ingin ku tunjukkan, melainkan di saat satu pintu tertutup pintu lain pasti akan terbuka.
Saat itu hari-hariku sangat menyenangkan bersama teman-teman, namun kebersamaan kami akan segera berakhir ditandai dengan datangnya ujian sekolah yang bertubi-tubi. Ujian hiduppun tak luput menyapaku, telingaku mengeluarkan cairan putih dengan bau yang tidak sedap. Aku memakai jilbab hingga tiga lapis, namun cairan itu tetap saja tak mau bersembunyi. Dengan segala kesibukanku, ibulah yang mencuci kerudungku, ku lihat ibu mencuci sembari menitikkan air mata. Setiap malam aku selalu tidur bersama ibu karena kamar di rumah kami hanya ada dua. Sejak aku sakit kamarku juga berbau tidak sedap karena cairan itu menempel di bantal, namun ibu tetap saja mau tidur satu kamar denganku. Biasanya ku dengar tangisannya sebelum aku terlelap. Tak mau menanggung malu pada teman-teman, terutama teman sebangku ku yang harus mencium bau ini, aku memutuskan untuk tidak hadir di sekolah.
Aku mencoba berobat ke Puskesmas, aku sembuh selama satu minggu kemudian kambuh lagi. Saat itu teman-teman kerja ibu di peternakan memberi ibu uang untuk membawaku berobat. Akhirnya kami membeli obat di apotik, aku sembuh sesuai umur obat itu. Penyakit itu datang lagi dan kami harus membeli obat yang tak murah itu lagi. Seakan belum cukup, saat itu bapakku yang berprofesi sebagai petani, kakinya terkena cangkul. Sementara uang hasil menjual hasil panen buncis hanya sedikit karena harga buncis yang murah. Bapak mengalah, uang hasil panen itu berubah menjadi obat untukku. Hatiku pilu melihatnya susah berjalan sementara aku akhirnya terlepas dari penderitaan ini.
Setelah aku sembuh, aku menjalani lagi kehidupanku seperti biasa. Sama seperti sebelumnya, setelah melewati proses panjang dan tak mudah aku berhasil mengakhiri masa MA dengan menjadi yang terbaik dan berbagai prestasi. Ku hadiahkan sepenuhnya untuk keluargaku yang tulus mencintaiku.
Seorang guru yang selalu mengingatkanku untuk menadahkan tangan saat sepertiga malam, memberiku informasi tentang beasiswa bidikmisi. Namun sayang deadline pendaftarannya sudah lewat. Saat itu aku jarang sekali mengakses informasi di internet.
Ku pikir ini adalah kesempatanku mewujudkan impian masa kecilku untuk menjadi penegak hukum, aku mendaftarkan diri di Kapolres Kepanjen. Seleksi pertama adalah pengumpulan berkas dan cek fisik. Jarak rumah dan Kepanjen cukup jauh, sedang motor Sanex ku sering kali bermasalah. Mengurus segala berkas itu membuatku sering bolak-balik rumah-Kepanjen.
Pada hari itu berkasku telah lengkap, saat aku akan berangkat motorku bermasalah. Aku memutuskan untuk menggunakan angkutan umum, untuk menuju kepanjen aku harus naik tiga angkutan umum. Semangatku menggebu, aku menunggu kesempatan ini seumur hidupku. Setibanya di Polres, aku segera menyerahkan berkasku dan mengikuti cek fisik. Alangkah terkejutnya aku, aku tidak lolos karena tinggiku kurang satu centimeter saja. Impianku layu tanpa sempat berkembang.
Langkahku gontai saat keluar dari Polres, dalam hati aku mengutuk andai satu senti itu. Susah payah aku membujuk diriku untuk berdamai dengan hati untuk menerima kenyataan. Baru tersadar aku bahwa aku datang ke sini dengan angkutan umum, segera kuraih dompetku hanya ada kertas bergambar Pattimura bertengger di sana. Aku limbung, ku lihat ponselku pun tak bernyawa. Ku putuskan untuk berjalan kaki, mesti tak mungkin aku berjalan kaki ke rumah. Ingin ikut bersama kendaraan yang melintas, namun takut akan resiko. Aku lebih memilih berjalan menerobos hujan.
Saat itu aku sedang puasa rajab, mendengar adzan maghrib aku memutuskan untuk singgah di masjid terdekat. Aku menuju kamar mandi, ku teguk dua gayung air untuk membatalkan puasaku dan menghilangkan semua dahaga. Seusai shalat ku adukan semua masalahku pada Sang Maha Pendengar, ku biarkan air yang membanjiri pipiku.
Seusai shalat ku putuskan untuk berjalan lagi, sebenarnya nyaliku juga ciut berjalan sendiri di malam hari, mungkin bila sudah terlalu larut aku akan bermalam di masjid. Tak berselang lama setelah aku berjalan lagi, seorang pemuda bersepeda berhenti di depanku, ku taksir usianya tak terpaut jauh denganku.
“Mbak yang jalan dari tadi siang, mau kemana?” sapanya padaku
“Saya mau pulang ke Karangploso, tadi lupa gak bawa uang” aku menangis dan menceritakan semua, tak peduli aku tak mengenalnya.
“Ini mbak” ia menyodorkan lembaran Rp. 20.000
“Tidak usah, mas” tolakku
“Sudah mbak terima saja, ini sudah malam”
Akhirnya aku menerima uang itu dan pria tadi membantuku mencari angkutan umum, “Terimakasih, ya mas” hanya itu yang bisa ku ucapkan. Akhirnya aku bisa pulang dengan angkutan terakhir yang melintas, bahkan sopir angkutan tersebut mengatakan jika aku telat beberapa menit saja sudah tidak ada lagi angkutan yang melintas. Pukul sembilan malam, aku tiba di rumah dengan perasaan yang bercampur.
Tak putus asa, aku mengubah rencanaku. Ku pikir saat ini yang paling penting aku bisa kuliah. Aku mengikuti seleksi BPUN (Bimbingan Pasca Ujian Nasional) dan aku terpilih menjadi satu dari 60 peserta yang mendapat bimbingan khusus di Kepanjen. Banyak hal yang ku dapatkan di sini, ilmu, teman, dan pengalaman. Aku masuk kelas Saintek.
Dua minggu kemudian seorang teman memberiku informasi mengenai beasiswa Beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) dari Kementrian Perindustrian tiga hari sebelum pengumpulan. Sedikit ragu aku mengikuti beasiswa tersebut. Beruntungnya seleksi beasiswa tersebut hanya melalui berkas, hampir semua berkas ku kantongi ketika mendaftar di kepolisian, hanya empat berkas yang harus ku lengkapi. Setelah mendapatkan surat keterangan tidak mampu dan surat rekomendasi dari sekolah, aku meminta surat keterangan bebas narkoba. Ternyata tes tersebut membutuhkan biaya Rp. 40.000. Sedang aku hanya memiliki uang seperempatnya.
“Mohon maaf ya pak sebelumnya, tapi saya hanya punya uang sepuluh ribu” kataku pada petugas.
“Memangnya surat ini untuk apa?” tanya petugas tersebut
“Untuk melamar beasiswa, pak. Saya benar-benar membutuhkannya”
“Ya sudah gak papa ini bawa aja.”
“Terimakasih, pak”
Aku bergegas menuju dinas perindustrian untuk meminta surat pendelegasian. Seorang petugas penyambutku, “Kenapa baru minta sekarang? Batas akhir pengumpulan besok. Kamu bisa?”
“Saya baru tahu infonya kemarin, bu” elakku
“Pokoknya tidak bisa, atasan saya sedang rapat.”
Tak peduli dengan pernyataan petugas tersebut, aku menunggu hingga setengah jam lebih. Mungkin petugas itu iba, akhirnya dia menanyakan namaku dan akhirnya memberiku surat yang ku tunggu.
“Ini surat kamu, kamu ke kantor pos yang di dekat alun-alun itu buka sampai malam, biar besok bisa dikirim” saran petugas tersebut, saat itu hari jumat dan kantor pos biasanya tutup jam tiga sore.
“Iya, terimakasih, bu”.
Aku bergegas untuk shalat di masjid, aku menuju toilet dan meninggalkan tasku di depan. Aku terkejut saat keluar dari toilet hapiku sudah raib. Tak tahu harus bagaimana, aku memutuskan kembali ke tempat bimbingan. Seorang teman menanyaiku kenapa tidak mengikuti kelas, ku ceritakan padanya semua yang telah ku alami. Mungkin dia tersentuh, akhirnya dia bersedia mengantarku ke kantor pos dengan motornya.
Waktu cepat berlalu sangat cepat, satu bulan bimbingan ini pun usai. Pada malam terakhir pendaftaran SBMPTN ketua kelas kami menanyaiku apakah mau mendaftar. Aku menolak dengan halus, meski sebenarnya aku sangat ingin mengikutinya. Tapi aku tak bisa membayar uang pendaftarannya.
“Kamu ingin ikut SBMPTN kan? Ini ada sedikit dari teman-teman” ketua kelas kami menyodorkan uang. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan berterimakasih. Orang-orang ini belum lama ku kenal, tapi bisa sangat peduli padaku.
Selepas ujian SBMPTN, aku masih belum tenang. Ada informasi mengenai tes masuk STAN, aku ingin mengikutinya, namun lagi-lagi aku tak mampu membayar biaya pendaftarannya. Tak pernah ku ragukan keinginan kuat selalu diiringi jalan. Aku memecahkan tabunganku, ku temukan uang 60 ribu. 50 ribu datang bersama ibu seorang temanku. Aku pun mendaftar dengan uang tersebut. Sebelum ujian dilaksanakan, aku datang ke ITN untuk melihat lokasi ujian. Aku yang jarang ke Kota Malang sama sekali tak tahu dimana Jalan Sigura-gura. Aku bolak-balik melintasi Jalan Sumbersari hingga Jalan Bendungan Sutami. Di sebuah perempatan aku berhenti, aku melihat pengemis yang tak memiliki kaki. Aku iba, kulihat kantongku hanya berisi satu lembaran lima ribu. Ku berikan itu padanya, saat aku mendongak kulihat papan bertulis jalan yang ku cari tertutup ranting pohon. Aku segera berbelok dan ku temukan tempat yang ku cari.
Esoknya pada hari ujian aku lewat jalan pintas karena motorku bermasalah, aku melewati sebuah masjid yang sedang direnovasi. Ku rogoh kantongku, ku temukan lembaran dua ribu dan segera ku masukkan pada kotak yang tersedia. Saat tiba di ITN, aku bingung karena ada biaya parkir sebesar dua ribu. Ku biarkan saja yang terpenting aku ujian dulu. Membaca soal ujian semakin menambah pusing kepalaku, seakan aku melihat tulisan dengan bahasa yang tak pernah ku kenal. Waktu habis, aku mengumpulkan lembar jawabanku meski tak yakin. Tak tahu aku apa yang harus ku perbuat mengingat aku tak punya uang sama sekali untuk membayar parkir, aku hanya duduk di dekat parkiran. Seorang ibu yang menunggu anaknya menghampiriku dan mengajakku berbincang.
“Mbak gak pulang?” tanya ibu itu sebelum pergi
“Saya bingung bu, tadi lupa tidak bawa uang. Ternyata parkirnya bayar” jawabku jujur.
“Kok gak ngomong dari tadi?” ibu itu membuka dompet “ini” ibu itu menyodorkan lembaran dua ribu.
“Terimakasih, bu” lagi-lagi hanya itu yang bisa ku ucapkan.
Aku membayar parkir dengan uang dari ibu itu, kemudian pulang. Di tengah perjalanan, motorku berhenti bensinku habis. Ku dorong hingga menemukan penjual bensin eceran. Demi mendapat satu liter bensin, ku tinggalkan tasku yang berisi buku-buku dengan janji esok kembali dengan membawa uang.
Hari pengumuman yang menentukan nasibku selanjutnya tiba. Sebelumnya jika mengikuti lomba apapun aku tak pernah meminta izin pada ibu, jika menang aku baru ku katakan pada ibu. Kali ini berbeda, aku takut, berdebar, semuanya bercampur. Sebelum melihat pengumuman, aku meminta doa restu ibu. Ku cuci kakinya, air itu kemudian ku gunakan untuk mencuci muka. Nyatanya kenyataan jauh dari harapan. Aku ditolak bertubi-tubi, SBMPTN dan STAN. Harapan terakhirku adalah TPL, ku lihat jajaran nama dari atas hingga bawah namaku tak ku dapati, yang ku temukan justru temanku yang di terima di Makassar. Aku pulang dengan lemas.
“Bu, bagaimana? Aku tidak bisa kuliah, apa aku harus bekerja di sawah” keluhku pada ibu.
“Sabar, mungkin belum saatnya. Jalani saja dulu, nanti kalau ijazah sudah keluar kamu bisa melamar kerja.” Saran ibu.
Malam itu adalah malam 27 Ramadan, setiap sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan di masjid kampungku selalu penuh orang shalat Lailatul Qadar. Aku menjadi salah satu dari banyaknya orang yang memenuhi masjid. Aku shalat bersebelahan dengan ibu. Aku merasa malam itu malam terbaik dalam hidupku, ku adukan pada-Nya semua yang telah ku alami. Semua orang seolah pergi, hanya ada aku dan Dia. Ku biarkan semua masalah, kesedihan dan sakitku mengalir bersama air mataku. Perlahan kesejukan memenuhi dadaku, aku berdamai dengan diriku sendiri untuk menerima kenyataan. Ku lihat ibu sedang menghapus air matanya.
“Us, kamu dicari guru. Katanya kamu diterima di UGM.” Kata seorang temanku keesokan harinya.
“Gak salah? Aku gak daftar di UGM.” Jawabku
“Coba tanya langsung aja.” Katanya.
Aku bergegas menuju rumah guru yang di maksud, ternyata guru itu sedang tidak di rumah.aku menuju rumah guru lain yang rumahnya lebih dekat dengan rumahku. “Oh yang beasiswa itu ya?” sambut guru tersebut, kemudian pergi tak lama kemudian kembali dengan membaya amplop. “ini”.
Sekali lagi hanya bisa mengucap terimakasih. Aku menerima amplop itu dengan hati berdebar, ku buka perlahan, ku baca dengan teliti seolah tak ingin satu hurufpun terlewat. Tubuh ini terasa lemas membaca berulang-ulang memastikan namaku yang tertulis di kertas tersebut. Kertas ajaib itu menyulapku menjadi mahasiswi di Politeknik AKA Bogor.
Waktu melesat membawaku ke Rinjani. Hidup ini sepongah Rinjani, manusia bisa memilih takhluk atau menakhlukkannya. Aku memilih yang kedua, menapaki perlahan, menikmati dan mensyukurinya. Manusia begitu bodoh, aku perlahan baru mengerti alasan satu senti yang memupuskan mimpiku. Dia selalu memberikan yang terbaik, dan aku tak pernah meragukan hal tersebut. Aku menceritakan semua ini bukan karena diri ini besar, sungguh tak ada yang bisa ku banggakan, aku hanya berharap kamu memetik barang satu atau dua makna dari kisah hidupku agar aku bisa menjadi seindah namaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar